Remahan.com
Dr. Erdianto Effendi, SH, M.Hum
Dr. Erdianto Effendi, SH, M.Hum
Pimpinan Laboratorium Fakultas Hukum Universitas Riau

Perginya Sang Presiden Paripurna

REMAHAN.com - Kepergian Prof Dr Ing BJ Habibie menyisakan duka mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Ia meninggalkan duka di kedua belah pihak masyarakat yang sempat terbelah pada saat Pilpres lalu.

Di situ lah mulai terlihat kebesaran dan keteladanan seorang Habibie bagi presiden presiden setelah beliau. Beliau mengambil jarak yang relatif sama dengan kedua belah calon presiden. Begitu lah idealnya seorang mantan Presiden.

Tidak lagi ikut mencampuri pemerintahan dan politik kepada sebelah pihak apalagi ikut turun ke panggung politik praktis yang melibatkan dirinya sendiri maupun keluarganya. Habibie layak disebut negarawan, tokoh dan bapak bangsa. Ia juga terbuka dan sangat menghargai perbedaan. Itu point keteladanan yang pertama.

Point kedua, Habibie adalah pemegang gelar doktor, derajat tertinggi dalam bidang akademis. Ia bukan sekedar teknokrat atau birokrat tetapi akademisi yang menyumbang karya besar berupa teori yang mendunia. Pada point kedua keteladanan yang perlu diikuti adalah bahwa tidak ada hambatan untuk orang yang cemerlang dalam ilmu untuk terjun ke dunia politik.

Politik tidak salah jika diisi oleh para ilmuwan dan sebaliknya Presiden juga idealnya seorang yang cerdas dengan pendidikan tinggi. Masih pada point ini, sebagai ilmuwan dia bukan sekedar berteori atau bercita cita tetapi dapat mewujudkan ide dan teori dalam bentuk karya nyata dengan kekuasaan yang ada di tangannya.

Baca: Penegakan Hukum Lemah, Karhutla Tak Kunjung Usai, Korporasi Santai

Jadi adalah mitos belaka jika ada asumsi para ilmuwan sebaiknya tidak perlu terjun ke politik merebut kekuasaan.

Pada point ketiga, Habibie mampu membangun perekonomian dengan mengangkat nilai tukar rupiah dalam waktu singkat. Itu membuktikan bahwa Habibie pemimpin yang berhasil mengatasi masalah bangsa dalam tempo yang singkat. Ia mampu melakukan hal yang priorotas dan bukan dengan semangat juang tinggi, sebagaimana semangat juangnya meraih gelar doktor di Jerman.

Point keempat, Habibie adalah seorang demokrat sejati. Ia ikhlas ketika anggota DPR meneriakkan "huu" kepadanya saat memasuki gedung MPR. Ia tidak marah apalagi melaporkan mereka kepada polisi. Ia juga tidak marah saat tahu anggota MPR menolak pertanggungjawabannya dan tidak mencari cari cara untuk tetap maju mencalonkan diri jadi presiden. Masih pada point ini, Habibie layak diteladani soal sikapnya menyetujui usulan pembentukan Undang undang Pemilu yang baru yang dengan itu memperpendek masa jabatannya.

Ia memilih bersikap imparsial, demi bangsa dan negara, tidak memasukkan ambisi dan keinginan pribadi dalam suatu kompetisi, termasuk keberanian memutuskan referendum untuk Timor Timur yang untuk sebagian orang dianggap sebagai kekurangan Habibie secara politik. Bagi saya itu adalah keberanian dan kecepatan bersikap sebagaimana dalam banyak hal lain ia bisa bersikap tegas sebagai seorang Panglima tertinggi militer.

Menjadi presiden diperlukan sikap tegas dan cepat dalam mengambil keputusan demi bangsa dan negara kendati keputusan itu kadang dianggap salah oleh lawan politik.

Baca: Kampung Tepi Hutan

Point kelima yang perlu diteladani adalah yang berkaitan dengan pribadi. Beliau orang yang berani menunjukkan bahwa presiden tidak harus identik dengan protoker resmi.

Dalam menyampaikan pidato, beliau menyempatkan diri meneguk segelas air. Keberhasiilannya menjadi Presiden juga merubah mitos bahwa Presiden harus bertubuh gagah dan besar. Tidak harus berpostur tinggi besar untuk dapat jadi Presiden. Dan fakta ini menginspirasi banyak orang.

Point keenam, beliau layak diteladani dalam hal nasionalisme. Beliau rela meninggalkan karier cemerlang di luar negeri demi mengabdi untul bangsa dan negara tanpa memperbandingkan atau menanyakan apa kompensasi atas pengabdian itu.

Point ketujuh ia Presiden yang berhasil dalam urusan keluarga. Kisah cintanya dengan istrinya menjadi legenda cinta bagi banyak orang. Ia juga ayah yang berhasil mendidik kedua anaknya menjadi orang yang berhasil.

Point kedelapan, meskipun seorang yang unggul secara akademis dan memperoleh pendidikan Barat, menduduki jabatan politik tertinggi, ia tetap lah seorang umat beragama yang tunduk kepada Tuhan.

Baca: Menanti Gebrakan Pemprov Riau

Point kesembilan, untuk jadi pemimpin yang berhasil, masa kepemimpinan bukan lah ukuran. Walaupun kurang dari setahun menjabat Presiden, banyak terobosan besar yang beliau lakukan dan akan dikenang sepanjang masa.

Kebebasan pers, pemilu yang jujur dan adil adalah dua di antara masih banyak warisan besarnya yang tidak dapat disebutkan di halaman yang terbatas ini. Ia seumpama Khalifah Umar bin Abdul Azis, yang meski tidak lama memerintah dikenang sepanjang zaman.

Sembilan point tersebut, adalah alasan bagi saya untuk menyebut almarhum sebagai sosok Presiden Paripurna di antara presiden presiden yang pernah ada di Indonesia bahkan di dunia, tidak salah Iwan Fals dalam lagunya menyatakan Umar Bakri dapat bikin otak orang seperti otak Habibie. Dalam hal semangat belajar ia adalah ikon yang menginspirasi banyak anak Indonesia.

Selamat jalan Pak Habibie. Kami merindukanmu, semoga tenang di alam sana, diterima segala amal baiknya, diampuni segala khilafnya.

631 0

Komentar